31 Jan 2010

Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter

Penulis: Rum Aly
Penerbit:
KOMPAS
Terbit:
2004
Halaman:
456 hal.
Ukuran
: 23 x 15

Harga: 70.000 = 56.000 (hemat 20%)

Sinopsis
Pada awalnya, dimata mahasiswa era 1970an, kekuatan militer adalah pilar bagsa dan negara, sejalan dengan garis sejarah kelahiran TNI dari rakyat pada masa perjuangan kemerdekaan. Tapi ternyata setelah kekuasaan di tangan, militer jadi kehilangan idealisme. Kekuasaan yang didominasi tentara lebih mementingkan diri sendiri daripada bangsa dan negara, serta meningkatnya beberapa peristiwa yang melibatkan militer, salah satunya peristiwa 6 oktober 1970, menunjukan peningkatan otoriter penguasa militer. Mahasiswa bangkit mengumandangkan kesadaran hak-hak sipil. Sesuatu yang untuk pertama kalinya diungkapkan secara terbuka pada saat itu. Bagaimanapun, tiada negara yang tanpa kekuasaan, namun kekuasaan harus dijalankan sebagaimana mestinya sesuai dengan batasan hukum dan konstitusi dalam lingkup supremasi sipil yang menjadi syarat negara demokrasi.

Supremasi sipil tentu bukan pula berarti dikotomi sipil militer. Di Indonesia masih ada tempat peranan militer. Tentara bisa masuk dalam area sipil, tetapi bukan sebagai institusi. Tidak juga dengan posisi istimewa dengan alasan sejarah sekalipun. Jika tentara masuk dalam ruang sipil dengan seragam dan senjata d tangan seperti yang dikaukan selama ini, jelas harus ditolak!

Buku ini berisi hasil kolektif sejumlah aktivis gerakan mahasiswa pada tahun 1970-1974. Buku ini merekam secara jelas gerakan mahasiswa Bandung pada tahun tersebut soal militer pada tubuh kekuasaan negara, salah satunya adalah peristiwa 15 Januari 1974, yang kemudian disebut peristiwa Malari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar